PU Rekomendasikan Penggunaan Konstruksi Sarang Laba-Laba di Lintas Gempa
Fri, 30 Oct 2009 17:19:26 +0700

PU Rekomendasikan Penggunaan Konstruksi Sarang Laba-Laba di Lintas Gempa
Rabu, 07 Oktober 2009 16:14 WIB  
Penulis : Dani Prasetya

JAKARTA-MI: Departemen Pekerjaan Umum merekomendasikan penggunaan konstruksi sarang laba-laba (KSLL) pada bandara dan rumah susun yang berada di kawasan lintasan gempa.

Kepala Badan Pembina Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) Departemen Pekerjaan Umum Sumaryanto Widayatin mengatakan, konstruksi sarang laba-laba merupakan konstruksi yang ramah gempa.

Konstruksi yang dirancang oleh Ryantori dan Sutjipto dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya itu menurutnya dapat diadopsi pada pembangunan bandara dan rumah susun.

"Selain ramah gempa, konstruksi ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Bahkan tidak perlu menggunakan teknologi tinggi dalam menerapkannya," ungkapnya, Rabu (7/10).

Konstruksi itu memang terbukti memiliki ketahanan saat gempa besar melanda Aceh. Puluhan gedung yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba di Aceh dan Pulau Simeuleu relatif kuat saat gempa 8,9 Skala Richter dan tsunami.

Berbeda dengan bangunan tinggi lain yang telah ambruk rata dengan tanah. Pada gempa 7,6 Skala Richter yang melanda Sumatera Barat, 30 September 2009 lalu, konstruksi itu juga bisa mempertahankan beberapa bangunan. Hanya, pondasi berkonstruksi sarang laba-laba juga harus diperkokoh dengan pemasangan tulangan dan sengkang yang benar dan aman di dalamnya. "Terutama untuk bangunan bertingkat," ujarnya.

Sehingga, lanjut dia, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pada bangunan ramah gempa seperti penggunaan pondasi, struktur tulang yang mampu menahan goyang lintang, dan penyusunan pasangan batu. "Dan itu semua ada perhitungannya," katanya.

Penggunaan teknologi pondasi sangat menentukan kekuatan bangunan dalam menghadapi gempa seperti yang terjadi di Sumatera Barat, Jawa Barat, Aceh, dan Yogyakarta. Beberapa bangunan memang bisa bertahan dengan adanya penggunaan konstruksi ramah gempa yang sesuai ketentuan. Namun, terkadang dalam bangunan yang memenuhi rekomendasi pun masih menambahkan ornamen yang tidak direkomendasikan seperti kanopi yang dibuat dengan tulangan yang tidak sesuai.

Untuk penggunaan konstruksi itu, kata dia, memang relatif mahal. Namun, aplikasi di daerah yang sering mengalami gempa akan membantu meminimasi biaya pembangunan ulang akibat gempa.

Berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum, konstruksi berupa beton bertulang menyerupai sarang laba-laba dan tanah yang dipadatkan merupakan sistem pondasi pertama yang dapat memaksa tanah berfungsi sebagai struktur.

Konstruksi itu dapat diterapkan untuk pondasi gedung bertingkat 2-10 lantai yang berdiri di atas tanah yang memiliki daya dukung rendah, letak tanah keras cukup dalam, dan kompresibilitas tanah tinggi.

Contoh bangunan yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba di antaranya, penambahan tempat parkir pesawat yang dekat bangunan terminal (apron) yang ditata lagi 200 meter dengan lebar 97 meter di Bandara Juwata Tarakan.

Ada pula kawasan perkantoran pemerintah provinsi Sulawesi Barat (11 dinas dan kantor gubernur) yang memasang pondasi konstruksi sarang laba-laba pada tahun 2007.

Konstruksi itu sifatnya mengambang, lentur mengikuti gerakan gempa, memiliki kekuatan yang terletak pada distribusi tekanan dari struktur bangunan ke seluruh bagian fondasi berupa struktur mirip sarang laba-laba. Selain itu, dapat diaplikasikan pada berbagai kondisi tanah (tanah keras, tanah lunak, dan tanah kembang susut), berbagai pembangunan (jalan, irigasi, apron, runway, taxiway, kolam renang, container yard).

Untuk masalah biaya, terbilang lebih hemat 30% karena tahan 10 tahun sehingga tidak memerlukan biaya perawatan selama periode tersebut. Bahkan, apabila dibandingkan dengan pondasi konvensional penghematan mencapai 50 persen.

Alasannya, konstruksi itu tidak membutuhkan banyak besi dan semen, hemat material beton karena tanah dan pasir menjadi bagian dari struktur fondasi, serta tidak perlu memancang tiang sebagai pondasi karena penggunaan sistem pondasi dangkal dengan kedalaman kurang dari satu meter.

Menyoal ramah lingkungan, konstruksi itupun diklaim tidak perlu membutuhkan alat berat (samsak, crane). Juga, tergolong cepat, ringan, dan padat karya untuk direalisasikan sehingga cocok diterapkan pada wilayah yang membutuhkan pemulihan bangunan secara cepat pascabencana. (*/OL-7)



Tue, 29 Dec 2009 20:49:11 +0700
PENGHARGAAN UPAKARTI


Thu, 17 Dec 2009 15:42:40 +0700
Kementerian Pekerjaan Umum siapkan konstruksi permanen jalan Pantura


Sat, 27 Jun 2009 14:27:56 -0700
Bandara Baru Tarakan Gunakan Konstruksi Sarang Laba-Laba


Sat, 27 Jun 2009 14:08:54 -0700
Malaysia Uji Konstruksi Sarang Laba-laba di Tarakan


Fri, 30 Oct 2009 17:19:26 +0700
PU Rekomendasikan Penggunaan Konstruksi Sarang Laba-Laba di Lintas Gempa


Fri, 17 Jul 2009 10:54:11 +0700
“Gunakan Produk Konstruksi Nasional” - Koran Republika