KONSTRUKSI SARANG LABA-LABA

PONDASI RAMAH GEMPA


   

Pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu 06:58:53 (WIB) terjadi gempa dan tsunami terdahsyat di Samudra Hindia. Lokasi episentrum gempa adalah sekitar 160 km barat Sumatera di sebelah utara Pulau Simeulue di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

            Menurut data US Geological Survey (USGS), Gempa Aceh menempati posisi gempa berkekuatan terbesar ketiga setelah gempa Chili dan gempa Alaska, juga menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan durasi penyesaran yang paling lama yaitu sampai 600 detik. Gempa ini telah menimbulkan serangkaian tsunami yang merusak pantai-pantai di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sri Lanka, India, Thailand dan negara-negara lainnya dengan tinggi gelombang hingga 30 meter yang menyebabkan korban jiwa hampir di atas 275.000 orang, belum termasuk ribuan korban hilang dan kerusakan pada infrastruktur bangunan.

            Diantara reruntuhan bangunan di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) masih ada beberapa bangunan yang kokoh berdiri dan berfungsi dengan baik, seperti 32 gedung yang menggunakan pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba (KSLL) yaitu Gedung Taspen dan Gedung Jiwasraya Banda Aceh, 12 Blok Gedung SMK3 Banda Aceh, Gedung Dinas Perhubungan NAD, Gedung RSUD Simeulue, Gedung Dinas Kesehatan Simeulue, Gedung Kantor BAPPEDA Simeulue. Pulau Simeulue merupakan daerah yang paling dekat dengan episentrum  gempa.

           Karya anak bangsa ini terbukti kokoh dan menyelamatkan jiwa manusia, serta teruji kembali pada Gempa di Bengkulu, Padang, Palu, Manado dan Manokwari. Sehingga mendapat kepercayaan dan penghargaan UPAKARTI RINTISAN TEKNOLOGI INDUSTRI AWARD 2009 diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, APRESIASI PRODUK ASLI INDONESIA AWARD 2009 diserahkan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Bapak Mustafa Abubakar, RISTEK AWARD 2008 diserahkan oleh Menteri Riset dan Teknologi Bapak Kusmayanto Kadiman dan diterima di Istana Negara oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, INDOCEMENT AWARD 2008 diserahkan oleh Menteri Perumahan Rakyat Bapak M. Yusuf Ashari, KONSTRUKSI INDONESIA AWARD 2007 diserahkan oleh Menteri Pekerjaan Umum Bapak Djoko Kirmanto.

Konstruksi ramah gempa ini merupakan sistem pondasi bangunan bawah yang memiliki kekakuan tinggi (High Rigidity), kokoh, ekonomis dan monolit. Karya anak bangsa ini ditemukan pada tahun 1976 oleh alumni ITS dan dikembangkan bersama pakar ITB pada tahun 1996. Paten perbaikannya  tahun 2004 No ID 0018808 oleh PT KATAMA SURYABUMI sebagai pemegang paten dan sistem pondasi ini mulai diterapkan di proyek-proyek sejak tahun 1978. 

Penemu KSLLIr. Ryantori
Penemu Pondasi Sistem
Direktur UtamaKris Suyanto JF
Dirut PT. Katama Suryabumi

KSLL memiliki kemampuan untuk menyebarkan beban ke permukaan lapisan tanah pendukung yang jauh lebih luas dan merata, sehingga mampu mengeliminir resiko terjadinya Irreguler Differential Settlement. KSLL lebih hemat, karena massanya terdiri dari 85% tanah urug dan pasir yang dipadatkan dan 15% beton bertulang.

Dengan pembiayaan APBN, pengembangan Teknologi KSLL telah dilakukan kerjasama penelitian bersama Kementerian Negara Ristek, LPPM ITB dan Departemen Perhubungan Udara  pada Fasilitas Bandara Juwata Tarakan Kalimantan. Serta untuk penelitian Jalan Raya pada tanah kembang susut di Jawa Timur dan tanah lunak di Kalimantan, bersama Depatemen Pekerjaan Umum Direktorat Bina Marga dan Puslitbang PU.