KONSTRUKSI SARANG LABA-LABA

PONDASI ramah GEMPA

  Pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu 06:58:53 (WIB) terjadi gempa dan tsunami terdahsyat di Samudra Hindia. Lokasi episentrum gempa adalah di pantai barat Sumatra di sebelah utara Pulau Simeulue di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sekitar 160 km barat Sumatera.

Menurut data US Geological Survey (USGS), Gempa Aceh menempati posisi gempa berkekuatan terbesar ketiga setelah gempa Chili tahun 1960 dan gempa Alaska tahun 1964, juga menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan waktu (durasi) penyesaran yang paling lama yaitu sampai 600 detik (10 menit).


Gempa Aceh selain menempati posisi gempa berkekuatan terbesar ketiga setelah gempa Chili tahun 1960 dan gempa Alaska tahun 1964, juga menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan waktu (durasi) penyesaran yang paling lama yaitu sampai 600 detik (10 menit).

Gempa sebelah utara Pulau Simeulue telah menimbulkan serangkaian tsunami yang merusak pantai-pantai di Aceh, Sumatra Utara, Sri Lanka, India, Thailand dan negara-negara lainnya dengan tinggi gelombang hingga 30 meter yang menyebabkan korban jiwa hampir di atas 275.000 orang, belum termasuk ribuan korban hilang dan kerusakan pada bangunan.

Diantara reruntuhan bangunan di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) masih ada beberapa bangunan yang kokoh berdiri dan berfungsi dengan baik, seperti 32 gedung yang menggunakan fondasi Konstruksi Sarang Laba-laba (KSLL) yaitu Gedung Taspen dan Gedung Jiwasraya Banda Aceh, 12 Blok Gedung SMK3 Banda Aceh, Gedung Dinas Perhubungan NAD, Gedung RSUD Simeulue, Gedung Dinas Kesehatan Simeulue, Gedung Kantor BAPPEDA Simeulue. Pulau Simeulue merupakan daerah yang paling dekat dengan episentrum gempa.

KSLL terbukti kokoh dan menyelamatkan jiwa manusia, serta teruji kembali pada Gempa Bumi di Bengkulu, Padang, Manado dan Manokwari. Sehingga, KSLL menjadi Pondasi Ramah Gempa yang mempunyai kestabilan dan daya tahan horisontal cukup bagus, karena sistem tahanan sampingnya cukup besar, juga merupakan sistem fondasi bangunan bawah yang memiliki kekakuan tinggi (High Rigidity), ekonomis dan monolit.

KSLL sebagai Pondasi Ramah Gempa meraih kepercayaan dan penghargaan dari PU AWARD 2007 diserahkan oleh Menteri PU Bapak Djoko Kirmanto, RISTEK AWARD 2008 diserahkan oleh Menteri Riset dan Teknologi Bapak Kusmayanto Kadiman dan diterima di Istana Negara oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,  INDOCEMENT AWARD 2008 diserahkan oleh Menteri Perumahan Rakyat Bapak M. Yusuf Ashari, APRESIASI PRODUK ASLI INDONESIA AWARD 2009 diserahkan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Bapak Mustafa Abubakar dan PENGHARGAAN UPAKARTI TEKNOLOGI INOVASI 2009 diserahkan langsung oleh  Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Penemu KSLLIr. Ryantori
Penemu Pondasi KSLL
Direktur UtamaKris Suyanto JF
Dirut PT. Katama Suryabumi

Karya anak bangsa ini ditemukan pada tahun 1976 dan telah dikembangkan bersama pakar INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG pada tahun 1996. Paten perbaikannya  tahun 2004 No ID 0018808 oleh PT KATAMA SURYABUMI sebagai pemegang paten dan pelaksana khusus Pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba.

KSLL memiliki kemampuan untuk menyebarkan beban ke permukaan lapisan tanah pendukung yang jauh lebih luas dan merata, sehingga mampu mengeliminir resiko terjadinya Irreguler Differential Settlement.

KSLL lebih hemat, karena dari segi material massanya terdiri dari 85% tanah urug dan pasir yang dipadatkan dan 15% beton bertulang.

Dengan pembiayaan APBN 2009, pengembangan Teknologi Inovasi KSLL telah dilakukan kerjasama penelitian bersama Kementerian Negara Ristek, LPPM ITB dan Departemen Perhubungan Udara  pada Fasilitas Bandara Juwata Tarakan Kalimantan. Serta untuk penelitian Jalan Raya pada tanah lunak di Kalimantan, bersama Depatemen Pekerjaan Umum Direktorat Bina Marga dan Puslitbang PU.